Kamis, 20 Juni 2013
Worst day on This Red Dot
Senin, 27 Desember 2010
4 0
| pic from http://www.gettingpersonal.co.uk/images/CUFF_FINAL/40.jpg |
Bukan sedang membicarakan skor bola semalam (hihihi...untung tidak ikut nonton jadi tidak merasa sewot karena kekalahan kesebelasan kita dari Malaysia), juga bukan sedang pilih2 kombinasi nomor Toto, tapi saya bicara tentang usia saya.
Perlu 6 bulan refleksi dan kontemplasi sebelum saya menyadari arti usia saya dan bisa membuat tulisan ini. Silakan baca...jika anda mendekati atau sudah mencapai usia penting ini :-)
Life begins at 40. Kenapa ada kepercayaan itu? Kalau dirunut dari sejarah, sebelum abad 20, jarang orang mencapai usia 40. Jika ada orang mencapai usia 40, berarti dia hebat daya tahannya walau juga sudah nearing to the grave. Haizzz..bener nih. Semua karena ilmu kesehatan dan kedokteran yang belum maju pada waktu itu, serta juga pengetahuan tentang hidup sehat yang juga belum banyak dimiliki masyarakat luas. Orang sakit flu biasa bisa berlanjut menjadi pneumonia dll.
Beda sekali dengan kehidupan mulai abad 20. Abad itu menunjukkan kemajuan teknologi yang pesat. Penemuan mesin cuci, vacuum cleaner, microwave oven dll ( jadi ingat iklan TV jaman baheula, hitam putih dengan gaya modelnya yang kaku hihihi) semua alat ini membantu meringankan pekerjaan rumah tangga para ibu RT. Jadinya...mereka mulai bisa memanjakan diri, memikirkan tentang diri sendiri, kesehatan dan keinginan pribadi mereka hehehe.
Ohya....siapa yang memopulerkan istilah di atas? Ada banyak versi. Psikolog dari Amerika Walter Pitkin menulis kalimat terkenal itu di bukunya yg berjudul sama (1932), tapi katanya sih bukan dia yang pertama menggunakan istilah ini. Seorang filsuf terkenal abad 19 dari Jerman Arthur Schopenbauer mengatakan, "The first forty years of life give us the text: the next thirty supply the commentary."
How true.
Anyway...saya mau mengatakan bahwa my 40 signs started early...but not in a good way gitu. Sebulan sebelum ultah 40, saya masuk rumah sakit, dirawat inap seminggu (cerita panjang sudah ditulis dulu). Dan lalu dokter mendiagnose bahwa saya terkena asma. Sekarang capek sedikit, mencium bau menusuk sedikit, dingin sedikit...lalu hatchiii hatchiii! Bersin, hidung tersumbat dan dada sesak. Dan...sekarang saya hidup dengan inhaler. Aduh...
Ada lagi. Alergi makanan sea food (shellfish) yang saya derita waktu kecil, sekarang kembali lagi. Shrimps and prawn noodle? Sotong anyone? Chilli crabs? Awww... I pass, with much regret.
Sejak 2-3 tahun terakhir tidak makan kambing, or anything yang too fatty. Sangat sadar dengan makanan yang saya makan. Tapi...betapapun ketat saya berdiet...tetap saja timbangan mengarah ke kanan, seperti lagu naik naik ke puncak gunungnya ibu Sud. Aiyoooo...
Ohya satu lagi. Biological clock wanita di usia 40 mulai menurun drastis, dan ini benar sekali. Ini sebabnya mengapa pemerintah Singapura menghentikan bantuan program fertilitas bagi warganya ketika si wanita berusia 40 tahun. This is one of the reason pastinya. Saya sadar sekali...ternyata usia tidak bisa dibohongi. Mau bikin anak lagi...aduuh susah sekali. ;-( ohya...tentu saja harapan masih ada buat kita2 wanita usia 40 tahun (ke atas) tapi tentu harapan itu tidak sebesar wanita usia 20-30 tahun. Dan kita musti memahami dan menyadari dan menerima kenyataan ini.
Akhirnya....jikalau saya mau menikmati dan memiliki kualitas hidup yg baik 30 tahun (atau lebih) ke depan seperti yang dikatakan filsuf Jerman Pak Arthur Shopenbauer, saya musti benar2 hati2 dan mulai hidup lebih sehat. Qi gong auntie...sorry, i havent joined your morning sessions yet...i was too lazy to wake up early. But I promise I will turn up this Wednesday morning though. xixixi...
So teman-teman, bagaimana dengan anda? Sama tidak perasaan dan pengalaman anda? Ada saran baik utnuk bisa lebih menikmati 30-40 tahun berikut?
- Posted from my iPad
Kamis, 28 Mei 2009
Akhirnya datang juga dia!
Kamis, 30 April 2009
It is like SARS all over again

(foto dari www.huffingtonpost.com)
Hri ini WHO resmi meningkatkan level waspada swine-flu dari 4 menjadi level 5, dari 6 level yang ada. Hari ini juga Menteri Kesehatan Singapura Khaw Boon Wan menaikkan tingkat waspada swine-flu di Singapura dari kuning menjadi oranye. Setingkat lagi menjadi merah, dan yang paling buruk, level hitam...level kewaspadaan tertinggi. Pada level oranye, langkah-langkah pencegahan seperti cerita saya di bawah, mulai dilaksanakan resmi sejak hari Senin depan. Waaa....ini serius teman-teman.
Apa itu Swine flu? Ini jenis influenza (dari virus H1N1 strain) yang aslinya menyerang babi. Tapi akhir-akhir ini, influenza ini memakan korban manusia juga. Ciri/ simptomnya seperti penyakit Flu biasa, pilek batuk demam, tp yg ini bisa mematikan.
Jadi ingat mimpi buruk jaman SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) berjangkit tahun 2002 di sini. Di mana-mana terlihat orang memakai masker. Kita jadi cepat paranoid, ada
orang batuk sedikit, kita akan cepet2 menjauh. Suplai masker, termometer, obat flu, sarung tangan, disinfectant solution, semua ludes dibeli masyarakat yang ingin berjaga-jaga. Saya ingat saya harus datang beberapa kali ke apotek karena kehabisan jatah masker dan disinfectant solution tangan. Banyak kantor dan organisasi2 / institusi di Singapura yang membagikan termometer (termasuk kantor suami saya) kepada pegawainya. Di lobi penerima tamu, disediakan disinfectant solution buat cuci tangan (kebiasaan ini jadi terbawa hingga sekarang lho).
Sekolah saya ada banyak murid berasal dari negara Cina dan Vietnam, negara di mana banyak terjadi kasus SARS. Mereka bukan murid di kelas saya tapi pertemuan di hall sekolah, di lobi itu tentu tak terhindarkan. Tiap hari kita juga harus mengecek temperatur murid dan staf. Siapa sakit, harus lapor dan kita monitor perkembangannya. Tegang sekali suasananya.
Malam hari, dengan cemas kita memantau perkembangam wabah Sars di tv. Ikut menangis mendengar berita duka, karena di Singapura ada cukup byk korban jiwa krn SARS, termasuk dokter dan perawat di rumah sakit yg merawat pasien2 Sars ini. :(
Pergi ke tempat/gedung umum, sekolah, menjadi lebih repot, kita harus melewati scanner tubuh, menjawab/mengisi list pertanyaan ttg keberadaan kita selama sebulan lalu,
apakah pernah melawat ke Cina, Vietnam, negara2 yg terkena wabah Sars, apakah ada keluarga yang terkena SARS/ sakit flu. Selain itu setiap tamu diminta mengisi buku tamu, meninggalkan nomor kontak supaya bisa dilacak dan dihubungi jika terjadi kasus di tempat tersebut.
Waktu itu, saya sempat harus mejalani operasi elektif kecil. Terpaksa jadwal operasi ditunda dan ketika dilaksanakanpun tidak boleh ada teman/ saudara yg menjenguk! restricted to one visitor (the same visitor yang sudah dilaporkan dulu ke pihak rumah sakit) per patient in all hospitals! Ah ah ah ... Mimpi buruk sekali.
Yg paling menyiksa adalah perasaan panik, putus asa, dan ketakutan yg melanda masyarakat umum, itu yg gawat.
Akankah kita di sini harus merasakannya lagi? Duuuh semoga tidak perlu. Tapi yg jelas sekarang pemerintah dan masyarakat Singapura sudah mulai melaksanakan waspada swine-flu pandemic. Setiap orang harus menerapkan dan meningkatkan taraf kebersihan pribadi dg sering mencuci tangan secara benar, memakai masker wajah dan menghindari tempat2 ramai, terutama jika sedang sakit. Orange alert everyone! HAti-hati! Waspada swine-flu!
Nomor telepon ambulance khusus untuk kasus suspected swine flu di Singapura: 993
Popular Posts
-
Sebenarnya sudah pernah posting ttg judul di atas , tapi yg dulu lebih banyak bercerita ttg pengalaman membantu teman reservasi hotel, l...
-
Perempuan bisa cantik tanpa keluar duit banyak? Bo-hong itu namanya, saya tidak percaya. (Hayooo...yang gak setuju jangan ngamuk, inikan blo...
-
Ada pasar malam di Singapura? Ohohooo...ya tentu ada. Pasar malam di sini biasanya muncul bergantian di daerah2 hunian (bukan daerah kanto...

