Kamis, 30 April 2009

It is like SARS all over again

(foto dari www.huffingtonpost.com)


Kaget juga membaca pengumuman dari sekolah ketika sedang mengajar siang tadi. Mulai minggu depan setiap orang di sekolah harus mengecek temperatur mereka sebelum masuk kelas. Jika merasa kurang sehat, batuk, pilek, demam, tidak boleh datang k sekolah. Mengapa? Karena jaga2 dan waspada terhadap wabah swine-flu yang sedang membuat panik dunia.

Hri ini WHO resmi meningkatkan level waspada swine-flu dari 4 menjadi level 5, dari 6 level yang ada. Hari ini juga Menteri Kesehatan Singapura Khaw Boon Wan menaikkan tingkat waspada swine-flu di Singapura dari kuning menjadi oranye. Setingkat lagi menjadi merah, dan yang paling buruk, level hitam...level kewaspadaan tertinggi. Pada level oranye, langkah-langkah pencegahan seperti cerita saya di bawah, mulai dilaksanakan resmi sejak hari Senin depan. Waaa....ini serius teman-teman.

Apa itu Swine flu? Ini jenis influenza (dari virus H1N1 strain) yang aslinya menyerang babi. Tapi akhir-akhir ini, influenza ini memakan korban manusia juga. Ciri/ simptomnya seperti penyakit Flu biasa, pilek batuk demam, tp yg ini bisa mematikan.

Jadi ingat mimpi buruk jaman SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) berjangkit tahun 2002 di sini. Di mana-mana terlihat orang memakai masker. Kita jadi cepat paranoid, ada
orang batuk sedikit, kita akan cepet2 menjauh. Suplai masker, termometer, obat flu, sarung tangan, disinfectant solution, semua ludes dibeli masyarakat yang ingin berjaga-jaga. Saya ingat saya harus datang beberapa kali ke apotek karena kehabisan jatah masker dan disinfectant solution tangan. Banyak kantor dan organisasi2 / institusi di Singapura yang membagikan termometer (termasuk kantor suami saya) kepada pegawainya. Di lobi penerima tamu, disediakan disinfectant solution buat cuci tangan (kebiasaan ini jadi terbawa hingga sekarang lho).

Sekolah saya ada banyak murid berasal dari negara Cina dan Vietnam, negara di mana banyak terjadi kasus SARS. Mereka bukan murid di kelas saya tapi pertemuan di hall sekolah, di lobi itu tentu tak terhindarkan. Tiap hari kita juga harus mengecek temperatur murid dan staf. Siapa sakit, harus lapor dan kita monitor perkembangannya. Tegang sekali suasananya.

Malam hari, dengan cemas kita memantau perkembangam wabah Sars di tv. Ikut menangis mendengar berita duka, karena di Singapura ada cukup byk korban jiwa krn SARS, termasuk dokter dan perawat di rumah sakit yg merawat pasien2 Sars ini. :(

Pergi ke tempat/gedung umum, sekolah, menjadi lebih repot, kita harus melewati scanner tubuh, menjawab/mengisi list pertanyaan ttg keberadaan kita selama sebulan lalu,
apakah pernah melawat ke Cina, Vietnam, negara2 yg terkena wabah Sars, apakah ada keluarga yang terkena SARS/ sakit flu. Selain itu setiap tamu diminta mengisi buku tamu, meninggalkan nomor kontak supaya bisa dilacak dan dihubungi jika terjadi kasus di tempat tersebut.

Waktu itu, saya sempat harus mejalani operasi elektif kecil. Terpaksa jadwal operasi ditunda dan ketika dilaksanakanpun tidak boleh ada teman/ saudara yg menjenguk! restricted to one visitor (the same visitor yang sudah dilaporkan dulu ke pihak rumah sakit) per patient in all hospitals! Ah ah ah ... Mimpi buruk sekali.

Yg paling menyiksa adalah perasaan panik, putus asa, dan ketakutan yg melanda masyarakat umum, itu yg gawat.

Akankah kita di sini harus merasakannya lagi? Duuuh semoga tidak perlu. Tapi yg jelas sekarang pemerintah dan masyarakat Singapura sudah mulai melaksanakan waspada swine-flu pandemic. Setiap orang harus menerapkan dan meningkatkan taraf kebersihan pribadi dg sering mencuci tangan secara benar, memakai masker wajah dan menghindari tempat2 ramai, terutama jika sedang sakit. Orange alert everyone! HAti-hati! Waspada swine-flu!

Nomor telepon ambulance khusus untuk kasus suspected swine flu di Singapura: 993


5 komentar:

Lambertus L. Hurek mengatakan...

Pertama2 saya haturkan terima kasih banyak kepada Mbah Dyah Peni Tunjung Sari yang cukup rajin melawat ke blog saya dan menulis kome2 bagus. Semoga tidak bosan2 ya!

Bener Ning, saiki virus2 sing anyar iki garai pusing lan panik. Biyen ono SARS, sapi gila, flu burung, saiki flu babi... Terus opo maneh.

Yen tak pikir2, mungkin dunia iki kan wis tuwek banget, penduduke yo wuakeh, ekosisteme rusak, ono maneh pemanasan global lan macem2. Mangkane, virus2 iso bermutasi, dadi momok nang endi2.

Hikmahe: lebih ati2, peduli lingkungan... lan kurangi konsumsi daging jarene koncoko sing penganut vegetarian. Hehehe... Nuwun.

Ayu mengatakan...

Mbak, emang ngajar di daerah mana? Kalo ga punya anak usia sekolah kaya saya masih belum terasa tegangnya. Moga2 ga sampai berkembang kaya kasus SARS dulu. Eniwei, wah Mbak bisa basa Jawa yah?
*yang lagi kangen ngomong bahasa Jawa*

Anonim mengatakan...

aku ikut prihatin dg byk penyakit kayak flu babi, SARS, dll.

Anonim mengatakan...

salam kenal, blog anda bagus n byk variasi.

aris

si Dyah mengatakan...

Mas Hurek,

Matur kenuwun sanget panjenengan reno ing penggalih. Nyuwun duko kulo nyerati ing Bahasa Indonesia :D Bahasa Jawa saya sekian saja bisanya :D

Mungkin teman mas Hurek bener juga....banyak2 makan sayur dan buah. Tapi yang organik kali ya? hehe kan pestisida bahan kimia juga...

Ayu,
Saya ngajar di daerah City Hall :D
Di sekolah bahasa gituu. Dulu ada Sars saya cuma tegang buat berdua (saya dan misua) sekarang...tegang buat 4 orang, sudah ada anak dan ibu skrg ada di sini soalnya! huhuhuuuuu

Aris,
terima kasih pujiannya. Salam kenal juga ya. Kok gakda link nya?

Popular Posts