Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Agustus 2010

Pendaftaran Sekolah Dasar di Singapura

Punggol Primary School, Feb 06Image via Wikipedia
Maaf...postingannya panjang.
Tapi jika anak anda akan bersekolah di Sekolah Dasar di Singapura,  mungkin postingan ini ada gunanya.

Dari tanggal 2-4 Agustus ini, pendaftaran masuk sekolah SD (Primary School) tahap 2C di Singapura berlangsung. Hari Senin ini, saya adalah salah satu orang tua calon murid yang mendaftar.

Ingin tahu lebih banyak tentang seluk beluk pendaftaran sekolah SD negeri/lokal di sini? Saya cerita sedikit ya!

1. Pemilihan sekolah di sini berdasarkan rayon, jarak rumah murid ke sekolah. Dari jarak 0-1 km, jarak 1-2 km, atau >2km. Lokasi rumah menentukan hasil pendaftaran (diterima atau tidak masuk ke sekolah yang diinginkan, apabila terjadi ballot/ undian). Undian dilakukan jika jumlah peminat (calon murid) lebih banyak dari kursi yang tersedia.

Jadi...sebaiknya daftarkan anak ke sekolah terdekat, karena kemungkinan mendapat tempatnya lebih besar.

2. Pendaftaran dibagi dalam tahap-tahap, dalam kurun waktu yang berbeda, dimulai dari tahap 1 yang paling awal.

Tahap 1: untuk anak/ calon murid yang memiliki saudara kandung yang bersekolah di sekolah yang dituju
Tahap 2A1: untuk anak yang orang tuanya adalah anggota persatuan alumni sekolah itu, atau jika orangtuanya adalah anggota komite penasehat sekolah itu
Tahap 2A2 : untuk anak yang orang tuanya atau saudara kandungnya pernah bersekolah di sekolah ini, atau anak dari staf sekolah
Tahap 2B : untuk anak yang orangtuanya adalah sukarelawan kegiatan di sekolah itu, atau orangtuanya dikenal aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
Tahap 2C : untuk anak yang tidak mendapat tempat dalam tahap sebelumnya, atau jika anak itu tidak masuk dalam kategori di atas.
Tahap 2C tambahan: pendaftaran bagi anak yang masih belum mendapat sekolah pada tahap 2C
Tahap 3: bagi anak yang bukan warganegara Singapura maupun Permanent Resident (PR).

Tiap selesainya satu tahap, hasil akan diumumkan tak lama kemudian. Baru lanjut ke tahap berikutnya.

Errr...anak saya masuk tahap mana? Jelas masuk dalam tahap 2C.

3. Untuk tahap 1-2C: dokumen yang dibutuhkan dalam pendaftaran adalah surat tanda lahir si anak, buku vaksinasi/heath booklet, Re-entry Permit si anak untuk yang PR, bukti identitas (KTP) orang tua.

Untuk anak yang bukan warganegara Singapura dan juga bukan PR (international students), silakan cek di sini.

4. Tidak ada pembayaran uang sekolah atau uang seragam atau uang buku pada tahap pendaftaran.

5. Dari website MOE (Kementerian Pendidikan) bisa dilihat jumlah kursi sekolah yang masih tersedia di semua sekolah di Singapura. Ini diupdate perhari selama masa pendaftaran. Jika jumlah kursi yang tersedia lebih sedikit dari jumlah calon murid yang mendaftar, maka akan diadakan undian/balloting. Mulai tahun ini, anak berwarganegara Singapura mendapat dua kali suara dibandingkan anak berstatus PR. Huu...kabar buruk untuk para PR seperti saya.

6. Mencari tahu tentang kegiatan, penghargaan, program-program sekolah tertentu?
Bisa cek di website MOE atau di website sekolah tersebut, seperti contoh ini atau ini.

7. No school fee untuk SD. Ini detail nya.

8. Transportasi / bis sekolah disediakan untuk murid yang memerlukan. Biayanya belum bisa saya update ya...belum tahu, tapi dengar-dengar antara 70-100 dlr perbulan.

Ketika sedang sibuk mengecek status jumlah pendaftar di sekolah yang dituju...saya menemukan website ini. Sesuai sekali dengan sifat para anggotanya :-)

hehehe...
Enhanced by Zemanta

Jumat, 23 Juli 2010

Mendidik Generasi Muda



Satu minggu yang lalu kami jalan ke The Helping Hand Furniture Shop di Jalan Serangoon. Tujuannya memang sedang cari2 furnitur bagus dengan harga terjangkaulah. Maklum...baru mengisi rumah nih.

Ternyata sesampai di sana, ada keramaian. Ada Youth Exhibition yang bertema Crime Prevention. Seru juga, yang turut berpartisipasi dari kepolisian dan Civil Defence, ada mobil polisi dan ambulancenya. (ini mah anak saya yang girang melihatnya)

Pengunjungnya sebagian besar anak2 sekolah, mungkin secondary school. Ada yg presentasi ttg jenis2 kejahatan dan tips2 menghindarinya, bahayanya bermacam narkoba yang beredar di pasaran, dan pameran poster2 ttg kegiatan the Helping Hand organisation, juga tur melihat fasilitas yang ada di komplek The Helping Hand. Para pelajar juga terlihat bercakap-cakap dengan penghuni komplek the Helping Hand, kadang terlihat tertawa dan tersenyum. Akrab.

Suasananya gembira, para pelajar antusias berpartisipasi dalam kegiatannya. Kegiatan menyenangkan sambil belajar.

Ngomong2, organisasi apa itu The Helping Hand? Ini adlah organisasi yang menerima dan mendidik para mantan narapidana, ex-offenders terutama para bekas pecandu narkoba. Didirikan oleh Robert Yeo tahun 1987, yang juga bekas pecandu narkoba.

Kegiatannya dari mulai kegiatan konseling, terapi penyembuhan dan pendidikan moral dan agama (Kristen).

Untuk membiayai kegiatannya, mereka menjalankan bisnis jasa pengangkut barang (movers) dan juga menjual perabot rumah dari kayu jati (asal Indonesia). Naah....ini yang kita cari.

Para pegawai di toko furnitur ini juga para mantan pecandu narkoba. Badan dan tampang sangar tapi menyambut kami dengan ramah. Bagian dari proses kembali ke masyarakat kali ya? Sayang sekali...kali itu kami tidak berhasil mendapat barang yang berkenan di hati.

Bagusnya kegiatan ini. Pemerintah dan swasta bekerja bersama (kegiatan ini disponsori oleh pemerintah lewat Ministry of Community, Youth and Sports, MCYS) merangkul generasi muda, mendidik dan menyadarkan mereka akan bahaya narkoba.

Ketika pulang, kami diberi booklet mungil tapi lengkap tentang bermacam narkoba yang beredar di Singapura, berikut gelaja dan simptom setelah menggunakan, serta sanksi yang harus dijalani jika terbukti menggunakan/ terlibat dengan narkoba.

Bagus...bagus...

Kamis, 05 Februari 2009

Bersekolah di Singapura



(foto: si Raja Kecil lagi eksperimen warna)


Baru-baru ini Kementerian Pendidikan Singapura mengumumkan proposal baru mereka. Usulan mereka adalah meniadakan ujian kenaikan kelas untuk SD kelas 1 dan 2, dan menggantinya dengan ujian2 / kuis2 kecil sepanjang tahun ajaran.

Usulan ini mengundang pro-kontra, mengapa?

Mereka yang kurang setuju dg usulan pemerintah kebanyakan adalah para orang tua anak2 itu sendiri, yang mengatakan bahwa:
1. Nanti murid tidak terbiasa dg sistem pendidikan "yang sebenarnya" di Singapura, yang masih sangat menitikberatkan pada nilai baik ujian sebagai acuan keberhasilan anak dalam pendidikan.
2. Lebih capek untuk murid, karena ujian2 kecil sepanjang tahun akan membuat 'stres' sepanjang tahun. Capek juga buat orang tua (katanya lho) karena harus terus menerus memonitor kemampuan dan kemajuan si anak sepanjang tahun.

Yang mendukung proposal pemerintah ini, antara lain guru sekolah SD lokal sendiri di sini, karena menurut mereka:
1. Adalah lebih baik menumbuhkan rasa cinta pada pengetahuan, membantu anak memuaskan rasa ingin tahu, dan menanamkan pikiran bahwa belajar itu menyenangkan, bukan stres.
2. Biasanya anak2 tingkat SD 1 dan 2 pun belum perduli dengan hasil ujian mereka, jadi ujian tidak bisa dijadikan ukuran kepandaian anak. Apalagi ada anak2 yang "late bloomers", yang baru menunjukkan bakat dan kepandaiannya lebih lambat dari teman2nya.
3. Biarkan anak2 mengeksplorasi minat mereka dulu, menggambar, menari, menyanyi dll. Ini juga bagian dari proses belajar.

Harga sebuah Keberhasilan

Mungkin anda sudah sering dengar, betapa mutu pendidikan di Singapura dikatakan termasuk yang terbaik di Asia, bahkan mungkin di dunia. Tapi konsekwensinya berat juga deh, karena yang saya lihat/ dengar/  baca dari koran lokal, sejak SD (bahkan sejak TK) murid2 sudah dibebani modul2 berat dan seabrek. Libur semester tengah tahun sekolah rasanya bukan libur, karena tiap hari pada masa libur sekolah, SD dekat rumah saya masih saja banyak muridnya, yang ambil ekstra-kurikuler, yang ambil jam tambahan untuk mata pelajaran tertentu (biasanya diwajibkan oleh sekolah, karena nilai rapor murid2 ini dianggap rendah)...yang ini, yang itu. Waaaaaaahhh, kapan liburnya! Kapan mainnya! :(

Susahnya lagi,  sebagian besar orang tua murid masing berpikiran  "Kiasu" alias tidak mau kalah. Khawatir anaknya tidak bisa bersaing di sekolah, mereka dimasukkan ke kelas2 tambahan, misalnya kelas Science, Math, Chinese language dll. Teman saya yang anaknya sudah di SD mengeluh karena tiap bulan harus mengeluarkan uang banyak untuk biaya kursus ini itu. Gawat ya...

Pemerintah mungkin juga ada andil dalam menciptakan iklim kiasu ini. Soalnya sehabis pengumuman O level atau A level (sekelas SMA dan college), koran2 lokal penuh berisi undangan dari berbagai institusi baik swasta maupun negara kepada murid2 (yang lulus dengan nilai bagus saja nih) untuk mengajukan proposal beasiswa. Bagi mereka yang terpilih, akan disekolahkan di sekolah2 ternama di dunia - Cambridge, MIT, Harvard, Oxford, fully funded! 
Menggiurkan lah pokoknya.

Mungkin juga kalau pemerintah tidak terlalu mendewa-dewakan nilai hasil ujian yang sempurna sebagai ukuran keberhasilan murid, para orang tua juga tidak akan terlalu khawatir dengan perkembangan pendidikan anak mereka. Malah mungkin akan bersedia memberi 'keleluasaan' bagi anak mereka untuk belajar hal2 lain seperti belajar sopan santun, belajar ttg budaya dan seni, belajar lebih cinta lingkungan dll.

Kelihatannya sih akhir2 ini arah kebijakan pemerintah sudah mulai condong ke sana, buktinya ada usulan seperti ini. Institusi2 pendidikan yang adapun mulai memperhitungkan 'kemampuan' lain calon murid ketika memutuskan siapa yang akan mereka terima di sekolah mereka. Semakin banyak orang tua yang bersedia menyekolahkan anak mereka di sekolah olahraga, sekolah musik/ seni dll. Tapi, hasil nyata dari berubahnya arah pendidikan di sini belum  bisa dilihat sekarang. Yang terpenting, pemerintah dan masyarakat harus bersama mencoba mengubah persepsi mereka ttg arah pendidikan generasi muda bangsa. 

Saya sendiri bagaimana? 

Hingga dua hari yang lalu saya masih bersemangat mencari tempat kursus bahasa Mandarin untuk anak saya yang masih di TK1. Terus terang, saya kepingin anak saya belajar bahasa Mandarin, kan mumpung tinggal di sini, di samping juga kepingin anak saya punya edge gitu....punya harga jual lebih, buat bekal nantiiiii. Tapi juga mungkin setengahnya karena cara berpikir saya sudah agak terpengaruh oleh berita dan cerita kiri kanan nih. Kiasu juga dong saya.

Sampai akhirnya saya mendapat pencerahan dari teman baik saya...ibu Lili. :)
Dia berprofesi spt saya, anaknya dua di SD dan SMP. Yang besar tidak ambil Mandarin, karena sewaktu pindah ke Singapura, dia sudah kelas 4SD, tidak mungkin lah belajar Mandarin dari ) di kelas 4. Adiknya masuk SD, ambil Mandarin, sampai sekarang survive dengan tambahan tuition di luar. Tapi ....anak ini pasif juga Mandarinnya, di rumah kan tidak ada yg menggunakan. Dan ibunya berkata....sekarang sudah susaaaahhhh....pelajarannya! Setengah mati! Dan...ini sudah harga mati, gak bisa minta pindah belajar mother tongue lain misalnya Malay atau Tamil. Jadi ya....sampai SMA nanti harus ambil mata pelajran Bahasa Mandarin lah. Untungnya anak teman saya santai saja, tapi anak lain bisa stress karena beban pelajaran (dan pengharapan orang tua?) yang tidak sesuai kemampuan.

Deg...tiba2 saya tersadar! Halooo....ini yg semangat belajar bahasa Mandarin anaknya atau orang tuanya ya? Biar saya masukkan anak saya ke kelas / kursus tambahan paling top juga, kalau anaknya tidak tertarik/suka...malah jadi beban buat dia. Kasihaaannn...

Saya jadi berpikir...hm...anak masih kecil (baru aja genap 4 tahun) lebih baik diperkenalkan dengan cara yg menyenangkan kepada berbagai hobi termasuk bahasa, asal tidak dipaksa. Tidak perlu pasang target. Main-main kan juga bagian dari proses belajar buat anak kecil. Nanti kan kelihatan...dia senang dan tertarik dengan apa, itu yang kita dorong. Benar ngga?

Atau... ada masukkan buat saya? Mau yaaa...

Popular Posts