Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Kamis, 01 Oktober 2015

Lebaran Haji 2015


Hari Raya Idul Adha yang baru lalu, kita sholat di mesjid baru di Punggol, mesjid Al Islah. Pagi itu, kabus asap menggantung tebal, menyelimuti Singapura, termasuk Punggol. Tapi kita tidak patah semangat. Ayo, bangun pagi dan pergi ke mesjid! Pakai masker! (Ternyata hari itu psi reading di Singapura mencapai tingkat tertinggi, 300 lebih, yang menyebabkan sekolah ditutup keesokan harinya)

Sampai di mesjid, sudah banyak jemaah datang.

Senin, 12 Mei 2014

Making Tumpeng Again!


It is our family tradition to enjoy yellow rice 'tumpeng' on somebody's birthday. This tradition started from very long time ago, when I was young. My late maternal grandmother used to take in tumpeng orders - be it for birthday, anniversary, wedding, baby shower or other 'selamatan' - from friends and relatives. I still remember how busy my grandmother was when she take in order. Everyone in the family would help out in the process, some would be busy making the decoration, some with the side dishes etc. It was a family affair and I thoroughly enjoyed the the social engagement that was part and parcel of making tumpeng at that time. I was too young to be able to lend a hand so I would just play with my siblings and cousins, all around the same age, as our parents were busy helping out in the kitchen! Lovely memory. 

During my grandmother's time, the tumpeng decoration and its side dishes were pretty simple. The side dishes usually consisted of fried chicken or fried fish, potato and meat 'perkedel', shredded egg-omelette,  stir-fried corn and french bean or chicken meat, spicy beef liver and potato dish, and 'urap' salad as its vegetables. Sometimes grandmother also prepared bubur merah-putih or rice congee as the dessert, half portion was sweetened with palm sugar, and the remaining half was in salty or savoury flavour, to create harmony or balance, like Yin and Yang.

As decoration, she created flowers from red chillies, carrots, cucumber and tomatoes. She used celery leaves and long beans as parts of decoration. Banana leaves was folded in such a way to create a pretty huge plate as the base for the tumpeng. It was not used in the pictures below as I was time pressed during the making. On any other occasions, I would try to follow the tradition :)



Now that I have my own family, I try to preserve the tradition of making tumpeng to celebrate birthday of my family members. The latest one was my  husband's. My tumpeng is definitely a lot less elaborate than the tumpeng that my late grandmother used to make but it does taste equally delicious, I think. Hehehe. 

If you were wondering what was the cute purplish flower in the picture above made from, well...it was made from a big red onion. I recently learned how to make one from this wonderful youtube channel managed by a Thai lady. I know i know...not exactly traditional Indonesian tumpeng eh? Well...let's call it a fusion tumpeng then. By the way, do check out the link to the food art channel above, it is really a great site with beautiful video and very clear step-by-step explanation on how to make so many types of edible food art!

Oh and how do you make the tumpeng? you asked me. First of all, you need a cone-shape tumpeng mold. I found mine at a shop run by an Indonesian couple in Little India, just opposite Tekka market. The shop is called Pasar Baru (it means: new market in Indonesian) :) haaa. I warned you though, the price is SGD standard, so it is a lot cheaper to buy the mold in Indonesia but then again, if you use it often or for business, I think it is worth buying here :) My recipe for making tumpeng can be found here. 

Sabtu, 20 November 2010

Tanggung jawab siapa?

Gambar: babylifestyles.com

Berita yang menjadi bahan pembicaraan orang awal bulan ini:

A Singapore couple have discovered that their baby conceived through in-vitro fetilisation (IVF) is not biologically theirs - the child's DNA does not match the father's.
Aduh...bagaimana ini bisa terjadi?
Kasus ini sedang diselidiki jadi belum ada pernyataan resmi dan final. Tapi dari beberapa berita yang beredar dikatakan bahwa kasus ini terjadi karena adanya kesalahan di meja laboratorium, ketika spesialis di lab secara tidak sengaja menggabungkan sperma dan telur dari pasangan yang salah! Oh no!

Sekarang, departemen kesehatan Singapura sedang meninjau kembali proses dan protokol pembuahan buatan yang berlaku di sini. Mungkin nantinya akan dibuat peraturan yang menegaskan bahwa seorang spesialis di lab hanya boleh menangani satu kasus (satu pasangan) dari awal hingga prosedur selesai, sebelum bisa menangani kasus lain.

Kasihannya pasangan ini. Bisa dibayangkan, betapa bahagianya mereka mengetahui bahwa buah hati yang dinanti bertahun-tahun akhirnya lahir dengan selamat. Tapi....kebahagian berubah menjadi kekecewaan ketika mereka mengetahui bahwa si bayi tidak berasal dari sperma sang ayah! Aiiih...

Saya bisa membayangkan betapa pedih perasaan yang dialami sang ibu. Kenapa? Karena menjalani prosedur ini benar-benar menguras emosi. Ini berdasarkan pengalaman pribadi.

Kami pernah mencoba prosedur ini, walau sayangnya tidak membuahkan hasil. Tapi yang jarang diceritakan oleh para wanita yang menjalani prosedur ini adalah betapa hebat roller-coaster ride emosi yang mereka rasakan semasa menjalani prosedur. Ritual menyuntik diri dengan hormon bermingu-minggu plus efek sampingannya, rasanya bukan apa-apa dibanding rasa cemas, takut, harapan tinggi yang akhirnya amblas menuju kekecewaan ketika prosedur tidak berhasil. Capek. Sedih juga.

Dalam kasus kami, setelah mencoba beberapa kali tanpa hasil, akhirnya kami menghentikan usaha ini. Biarlah nature takes its course. Apa yang terjadi, terjadilah. Lagipula sebagai orang yang beragama, saya coba berpikir positif. Mungkin ini artinya kami belum bisa diberi tanggung jawab tambahan. Mungkin memang harus usaha yang lain. Rahasia yang harus ditemukan kuncinya ya...

Kembali ke kasus di atas. Pasangan ini dikabarkan tetap memilih menjaga dan membesarkan sang bayi, walau mereka juga tetap membawa kasus mereka ke jalan hukum. Tapi...bagaimana jika kasus ini terjadi pada pasangan lain, dan pasangan suami-istri itu menolak memelihara sang bayi karena sang bayi dianggap bukan keturunan mereka? Siapa yang harus bertanggujawab atas hadirnya satu manusia di dunia ini? Bingung ya?

Tsk..... jangan sampai saya harus menghadapi keadaan ini :-(


Ini link beritanya: klik ini dan ini.
Klik ini jika mau tahu tentang IVF

Senin, 08 Juni 2009

7 Habits of Happy Kids

 

Siapa yang tidak kenal buku laris dari Stephen Covey yang berjudul 7 Habits of Highly Effective People? Ahaaa....jadi ingat jaman2 saya ikut satu MLM yang menjadikan buku ini satu pegangan bagi para anggotanya untuk mengolah sikap, terutama dihubungkan dengan bisnis MLM yg mau dikembangkan. 
Nah, satu-dua minggu lalu saya kebetulan melihat buku ini : 7 Habits of Happy Kids; di toko buku. "Hm...bagus tidak ya? Jangan2...isinya memaksa?" Mau tahu kan?
Buku ini ditulis oleh Sean Covey, anak dari Stephen Covey, dan diperuntukkan bagi anak di bawah umur 12 tahun, untuk memperkenalkan ide2 dan pemikiran Stephen Covey. Jadi topik di buku terbagi dalam 7 bab, antara lain: Be Proactive, Begin with The End in Mind, Put First Things First, Think Win-Win, Seek first to Understand and then Be Understood, Synergize dll.
Wah wah...kedengarannya berat ya? Tapi...menariknya buku ini bisa mengangkat tema2 tadi dalam bahasa sederhana dan cerita yang menarik bagi anak2! Ada tujuh karakter anak pemeran utama buku ini, masing2 dengan keunikannya, ada tokoh anak yang lebih condong ke arah seni, olahraga, musik, tokoh anak yang senang membaca dll. Jadi...saya pikir, anak2 yang membaca buku ini bisa mengidentifikasi diri mereka dengan salah satu tokoh anak, pintaaaar :D
Saya suka cerita Lily Plants a Garden, yang mengangkat tema Think Win-win. Topik ini mengajarkan pada anak, kalau mau sesuatu tidak bisa memaksa, harus think win-win situation. Lumayan...setiap kali si Raja kecil minta sesuatu yang bombastis, kita bisa ingatkan kembali pada topik bacaan ini, apa konsekwensinya, apa tanggungjawabnya...hehe. Lumayan, agak berhasil lah, ini kita bicara pada anak umur 4 1/2 tahun lho.
NIlai tambah buku ini: pada setiap akhir bab ada bagian diskusi dan baby steps, atau saran kegiatan lanjutan yang bisa dilakukan bersama anak untuk menguatkan penanaman nilai yang diajarkan. Bagusss!!!
Ohya...satu lagi, bahasa buku ini benar2 bahasa sehari-hari dan sederhana. Anak yang baru bisa membaca spt anak saya, langsung 'ketagihan' dan senang membacanya!
Kesimpulan? Saya rekomendasi buku ini sebagai bacaan bersama dengan anak anda! Semoga bisa bermanfaat! Selamat membaca!!! :D

Posted by Picasa

Sabtu, 14 Februari 2009

HAPPY VALENTINE !!

Valentine's Card created by: the Little King - for his dad



May you all have a wonderful romantic unforgettable ...Valentine's day!

I am enjoying mine  :)



Jumat, 13 Februari 2009

Berhemat - start DIY and unleash your creative side!

Sedang tidak enak badan...jadi gak bisa berpikir jernih.

Posting ini aja dulu ya... :)

Beli beli beli terus mainan buat si kecil....semua pake biaya. Maybe it's time to be creative...even if it is not purely your own idea...pokoknya judulnya berhemat.


Judul: Mobil2an
Bahan: Box (TV, radio, belanja etc) bekas, 4 buah piring kertas untuk roda mobil (sesuaikan ukuran ya), sedikit spidol atau cat untuk warna-warni, tali rafia,...and an eager child!!!


Cerita dibalik foto:
Para crew kecil ini anak saya dan sepupu2nya. Pertama yang punya mobil ya si Raja Kecil, lalu sepupunya main ke rumah. Main bareng...dan rupanya...asyiknya bermain mobil2an bersama sangat berbekas di hati sang sepupu. 

Next time they came to play...tadaaaa....udah naik mobil2an sendiri!!!!

:)

Psst: ada ide kreatif dan hemat lain untuk saya dan si kecil tidak? MAu doong

Kamis, 25 Desember 2008

Maen Layang-layang





Maen layang-layang di Singapura? Apa mungkin?

Yup, ternyata masih mungkin maen layang-layang di kota kecil ini, setidaknya buat kami yang tinggal di Sengkang, daerah pinggir kota Singapura, di mana masih banyak lahan kosong yang belum diisi bangunan. 

Sudah sejak beberapa waktu kami mengamati, tiap sore, di lahan kosong dekat Community Club di neighbourhood kami selalu ada banyak orang main layang-layang atau menerbangkan pesawat terbang ber-radio control. Kelihatannya asik sekali.

Sore berangin ini, agak mendung dikit...tapi belum hujan, kita memutuskan untuk join the crowd, kemping di pinggir lapangan, dan mencoba menaikkan layangan si Butterfly biru, yang udah jauh2 diimpor dari Bali! hehehe....

Satu ...dua...tiga...yak, akhirnya tinggi juga, selama beberapa menit, sebelum menukik tajam ke tanah, again...and again! Haiyaaaa....musti latihan main layangan lagi nih.

Yah...gak papa lah, si Raja Kecil sudah ketawa-ketawa cekikikan...hepi sekali lihat layangannya mengangkasa sesaat di langit! Lumayan...piknik, murah meriah di Singapura!

Sabtu, 13 Desember 2008

Yes Sir, Mr Policeman.

Ini mau share sedikit tentang cerita yang berhubungan dengan anak saya dan saya. 
Semoga tidak terjadi pada anda.

Ngga ada yg sakit atau celaka atau apa kok...well, not yet...tapi nyaris!

Berhubung sudah saya post di sini, kalau mau tahu, mampirlah saja ya.


Selasa, 02 Desember 2008

HBH-KBM



Halal Bi Halal Keluarga Besar Malangjoedo (HBH KBM)

Ini sih acara Halalbihalal Lebaran Oktober 2008 ini. Keluarga kami (dari ibu) yang jadi panitia. Berhubung panitia semua tinggal mencar di mana-mana, jadinya persiapan baru mulai serius setelah para panitia kumpul mudik mau Lebaran. Stress juga ... tapi seneng, akhirnya acara berjalan lancar.

Ini prestasi juga...berhubung jumlah panitia cuma 9 orang, lawan tetamu yang jumlahnya 120an orang. 

(para panitia, sudah bisa senyum, selepas acara)

Popular Posts