Selasa, 11 November 2008

Semua Ada Aturan

Baru-baru ini saya mengundurkan diri dari keanggotaan sebuah mailist. Gak usah diceritakan ya milis apa, pokoknya ini salah satu milis dari 3 milis yg saya ikuti (banyak atau sedikit tuh hitungannya).

Kenapa mengundurkan diri?

Sebabnya karena saya terganggu dg email2 tidak jelas yg masuk ke mailbox saya. Emailnya sering antar dua orang saja, tidak lebih dari 1-2 lines, dan isinya hanya tegur sapa yg berulang. Istilah saya: lempar2an  email gitu. 

Karena mulai terganggu dg banyaknya email tak jelas yg harus saya hapus tiap hari, saya usul untuk sedikit tertib bermailist. Usulan cuma sedikit saja, yaitu:
1. Subject email disesuaikan dengan isi email  (karena kebanyakan isi emailnya tidak ada hubungan sama sekali dg subject email)
2. Kalau email antar 2 orang saja, dan bersifat pribadi, lebih baik menggunakan jalur pribadi (japri)

Bagaimana tanggapan anggota mailist yang lain?

Yang bersuara: sebagian besar intinya menyatakan tidak setuju. Alasannya, ini mailist kan bersifat kekeluargaan, bukan mailist bisnis atau berhubungan dengan keahlian atau profesi. Jadi sah-sah aja lempar-melempar email yang  isinya hanya tegur sapa, atau permintaan titip2 barang kepada teman yang akan pergi ke suatu tempat, atau ledek-ledekan dan becanda yang bersambungan.

Well...this is where I disagree. 
Sesederhana apapun, mailist harus ada aturannya, karena ini forum terbuka, keanggotaan banyak dan mungkin anggotanya punya aktivitas dan fokus dan kepentingan berbeda mengikuti mailist itu.

Dan karena ini forum terbuka, kita juga sebaiknya menerapkan kebijakan toleransi/ tenggang rasa dan berpikir dua kali, sebelum mengirim email ke mailist yg kita ikuti. Tanya diri sendiri sebelum menekan tombol  "SEND" : Apakah email saya ini beguna untuk semua anggota mailist? Apakah isinya akan menggangngu atau menyinggung anggota mailist lain? 

Kedua mailist lain yang saya ikuti semua menerapkan bbrp peraturan, tidak ketat, tapi isi mailist jadi berguna untuk semua anggotanya. Dan oleh karena itu, saya setia mengikutinya.

So I really dont get it with this particular mailist, kenapa anggotanya  tidak mau teratur (bukan diatur loooh). 

What do you think? 
Menurut anda, perlukah ada aturan penggunaan mailist? Atau anda setuju dengan teman2 saya, yang mengatakan, hidup ini sudah susah, mari jangan dibikin susah dengan menerapkan aturan juga pada mailist kita. 

Update me on this: 
Apakah kebanyakan mailist yang ada isinya seperti yang saya gambarkan di atas? Kalau iya, berarti memang asya yg harus melakukan seleksi, mailist mana yg berguna untuk diikuti, mana yg tidak  :)


8 komentar:

Milla Widia N mengatakan...

aku juga keluar dari salah satu milis karena banyaknya email2 gak penting masuk, ada yg menghujat2, nyindir2... males bacanya. langsung klik "leave group" selesai deh ^_^

si Dyah mengatakan...

hahahaaaa.....sama dooong

mari kita quit bersama! :)

Arya mengatakan...

urun rembug ya...
tanggapan on update me on this : aku pikir trend ML (jangan diterjemahkan ke yang laen looohh...), memang seperti itu saat ini, jadi "ga ada beda" dengan chatting box he..hee... :)
what do you think ? (tanggapan) kupikir tinggal tergantung si admin memberlakukan tema apa yang akan dipake untuk ML tersebut berikut aturannya...susah karena dibikin aturan ?? lha wong mau punya email aja jg harus agree with the rule kok. tanpa aturan ??lalu kapan bisa tertib dunk ? lagian jika keseringan menghapus junk mail bisa" toolbar delete kita jadi soak dunk :)
kupikir jika dah gak sepaham dengan anggota ML karena adanya keberatan dari anggotanya karena faktor aturan, mending kita mulai mengatur diri kita sendiri, that's an easy way with optinional decision : take it or leave it ?

si Dyah mengatakan...

SETUJU 100% mas Arya!!!

:)

Lisa mengatakan...

utk milis biasanya gue set ke no emails jadi gue baca langsung di y group nya.
setuju bhw milis hrs punya aturan yg disepakati semua anggota.

Anonim mengatakan...

Saya juga sering mengalami hal macam itu. Solusinya memang reset ke no email. Jadi, naskah tidak akan menumpuk di inbox kita.

Persoalan lain yang juga mengganggu juga di blog. Kita ingin artikel dikomentari secara objektif dan bertanggung jawab dan tidak anonim. Tapi etika di Indonesia belum jalan. Hantam orang lain tanpa identitas atau ngawur-ngawuran.

Yah, dikasih kesempatan komentar gratis, tak harus daftar, malah disalahgunakan. Apa boleh buat, saya akhirnya memoderasi komentar-komentar yang masuk. Lebih baik tak ada komentar daripada banyak komentar, tapi gak karuan.

Selamat kerja Mbak Dyah. Salam.

si Dyah mengatakan...

@lisa,

iya...sptnya itu solusinya ya.

@mas/ mbak...?

hehe...ini kasi komentarnya menggebu-gebu dan bersemangat ya, sampai lupa menulis nama :)

hehehe....

iya, sama spt lisa, usulnya baik. Nanti saya lakukan deh :)

Makasih ya semuaaaa

Rini - mama GaYa (Gammas - Aya) mengatakan...

barusan mampir...salam kenal...tertarik dengan obrolan ini, dlm milist memang seharusnya ada aturan, tapi jika hal tsb tidak diperdulikan...yaa mending kita yg mundur...toh gak ada ruginya kita gak ikut... :-)

Popular Posts