Sabtu, 17 Mei 2008

The New Peranakan Museum

The Peranakan Museum, 39 Armenian Street Singapore 179941
Opening hours: Mon: 1pm to 7pm
Tues to Sun: 9.30am to 7pm (to 9pm on Fridays)
Admission : Adult $6, Free for children below 6 years old , Family (max 5persons) $25
Info : +65 63327591

(Beadswork, beadsnya sebesar biji wijen saja!)

It's been ages since I update my blog!

Ampyun...sibuknya setengah mati, dikejar2 setoran hoi! Tapi...sempat jalan2 juga di tengah kesibukan, tujuannya untuk detress saja..dan ajak ibunda dan adik jalan2 ke tempat yg unik selain jalan2 ke pasar! hehe

Museum Peranakan di Jalan Armenian Street ini baru dibuka lagi setelah tutup 2 tahun karena direnovasi. Menghuni gedung Tao Nan yang dulunya (abd 19 - awal 20) sebuah sekolah, museum peranakan terletak di pusat kota sehingga sangat mudah mencapainya. Bisa dg MRT, turun di City Hall MRt lalu jalan kaki sebentar. Atau naik Bis sampai di jalan North Bridge Road, lalu jalan kaki sedikit ke arah Fort Canning Park. Pokoknya gampang deh.

Apa yg menarik dari museum ini?

Konon ini satu2nya museum peranakan di dunia.

Buat saya yang sedang bantu2 dalam proyek buku yang ada hubungannya dg budaya peranakan, ya tentu saja keberadaan museum ini sangat membantu. Buat umum, mungkin yg bisa dijadikan daya tarik adalah keunikan budaya peranakan yang merupakan asimilasi budaya cina, melayu, india, eropa.

Ketika sedang menjelajah dan mempelajari barang pameran, kita akan bolak-balik setengah deja vu. Bolak -balik berkata dalam hati, eh...tradisi ini kan ada juga di tradisi jawa, eh...kue ini mah kuenya orang melayu, eh...kata 'manyak' nya orang peranakan itu maksudnya 'banyak' toh, atau 'chuchu' itu maksudnya ya 'cucu'. Eh...sama juga, nenek kita dulu juga suka nyirih...

Pokoknya begitu deh.
Museum peranakan terdiri dari 3 lantai, lantai 1 untuk galeri asal usul. Lantai 2 ada galeri pernikahan. Lantai 3 untuk galeri Nonya, Agama, orang2 peranakan ternama, makanan, percakapan ttg perkembangan budaya peranakan hingga sekarang sampai nantinya.

Link ttg museum ini : http://www.peranakanmuseum.sg/

Ini foto2nya...selamat menikmati!




Ini mak-anak bersoja di depan pintu muka tipikal rumah peranakan. Hihi....itu bayangan ato bukan yaaa, yang dibelakang manten!

Three Star Gods or Three deities (Fu Lu Shou) yang merupakan simbol kebahagiaan, kemakmuran dan keturunan. Bagus dan ehm...bikin tersenyum melihat patung2 kecil ini.

4 komentar:

mita mengatakan...

harus di akui, beberapa bagian museum memang agak spooky. tapi itu yg ada dibelakang pengantin bukan 'bayangan', punya bayangan sendiri kok.

ragil mengatakan...

berarti bhineka tunggal ika juga dong ya

tentangkami mengatakan...

Bagus sekali, jadi pengen :)

peranakan itu maksudnya, campur2 gitu yah. Kayak Indo ?

Lambertus L. Hurek mengatakan...

Mbak Dyah, ni hao ma?

Museum ini layak dikunjungi karena pasti banyak informasi menarik tentang sejarah. Jasmerah: jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Kita di Indonesia, khususnya kota besar macam Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang, Medan... pun punya komuinitas peranakan yang sangat banyak. Jauh lebih banyak daripada di negaranya Tuan Lee.

Hanya saja, belum ada pikiran untuk bikin museum macam begini. Dan itu ada hubungan dengan politik Orde Baru, 1966-1998, yang memberangus segala macam budaya peranakan di Indonesia. Tragis nian! Sebuah rezim secara sistematis memberedel kebudayan anak bangsa yang berusia ribuan tahun.

Sekarang apresiasi terhadap budaya peranakan mulai muncul meskipun kita (Indonesia) perlu bekerja lebih keras lagi.

Di Surabaya ada Museum Sampoerna, sejenis museum pernakan juga, tapi khusus koleksi perjalanan pendiri HM Sampoerna membangun "kerajaan rokok kretek" paling berpengaruh di Indonesia. Bapak Oei Hwim Hwie bikin museum peranakan khusus koleksi buku-buku, majalah, koran, dan sejarah peranakan Tionghoa di Surabaya.

Moga-moga setelah membaca tulisan Mbak Dyah, kemudian mampir ke Museum Peranakan Singapura, kita orang bisa lebih arif dan antusias dalam menghargai sejarah.

Selamat minum KOFFIE BANDOENG en.. daag.

Popular Posts