Selasa, 14 Agustus 2007

Bulan Hantu Lapar

Tipikal barang yang dipersembahkan kepada para hantu:
uang, sepatu, radio, bir kaleng sampai kursi pijit Osim ;-)

Menurut kepercayaan Tao, setiap bulan ketujuh (berdasarkan kalender bulan) pintu Gerbang Neraka dibuka sehingga para spirit, hantu, roh penghuni neraka dapat keluar dan menyerbu dunia. Bulan ini dikenal dengan nama Bulan Hantu Lapar atau Hungry Ghost Month. Untuk membuat hantu-hantu lapar ini tenang, tidak mengganggu kita penghuni bumi, maka pemeluk kepercayaan Tao lalu menyediakan berbagai sesajen dari mulai pertunjukan opera Cina, pertunjukan wayang/boneka tradisional hingga makanan, minuman, lilin serta hio. Sebagai tambahan, kertas-kertas uang (hell money) juga dibakar atau istilah lainnya dikirim ke neraka.

Nah...di Singapura, masih banyak pemeluk kepercayaan Tao. Dan tentu saja, setiap bulan ketujuh, semua kesibukan di atas terjadi juga di negara pulau ini. Sebetulnya menarik untuk diobservasi, terutama ketika ada hio sebesar orang dewasa dibakar dipinggir jalan! Wah...saya masih ingat betapa melongonya saya ketika pertama kali melihat hio raksasa itu! Tapi kebiasaan dan juga hio seukuran ini sudah tidak ada populer lagi sekarang, mungkin karena alasan yang akan saya sebut di bawah.

Nah terus terang saja, tanpa berniat mengurangi hormat saya terhadap para pemeluk kepercayaan ini, tiap tahun...ketika para hantu lapar ini mulai merambah dunia kita...ketika itulah saya mulai mengalami iritasi mata dan tenggorokan. Pasalnya? Karena asap pembakaran uang-uang kertas dan hio masuk ke dalam rumah dan menyebabkan mata dan tenggorokan saya kering dan perih! Maklumlah...apartemen saya berada di lantai rendah.

Jadi bagaimana dong, ada solusi mengatasi iritasi mata ini? Sepertinya berlebihan jika saya melayangkan surat kepada Town Council untuk meminta mereka memindahkan lokasi pembakaran (baca: tong-tong pembakaran) ke tengah lapangan terbuka atau lokasi lain yang jauh dari hunian. Atau...saya pindahkan sendiri saja? hehe....tidak kuat ah! Jadi saya rasa ini saatnya saya mempraktekkan rasa tenggang rasa terhadap pemeluk kepercayaan lain. Walau saya juga berharap...tolonglah transfer uang dan bendanya jangan terlalu banyak...perih mata dan tenggorokan ini!

Jadi, yang saya lakukan adalah menutup jendela dan pintu supaya asap tidak masuk. Lumayan mengurangi keperihan mata. Dan satu lagi....sediakan obat tetes mata di rumah! Jika mata perih...teteslah mata dengan cairan penyejuk mata ini! Eh...ini serius loh!

Dulu (lebih dari 5 tahun yang lalu) masyarakat selalu menyelenggarakan pertunjukan wayang (orang) atau opera Cina semasa bulan ini. Karena pertunjukan dipersembahkan untuk para hantu, biasanya posisi panggung pergelaran juga aneh-aneh, tidak mengarah kepada penonton 'manusia'...hehehe...tapi kepada penonton 'halus'.

Sekarang...tren yang ada di masyarakat adalah penyelenggaraan nyanyi dan tari oleh para 'artis' musiman. Disebut musiman karena para artis ini biasanya hanya manggung pada bulan ini saja, jadi bulan artis profesional.

Ohya...ada film produksi lokal yang baru diputar di sini, judulnya 881. Isinya? Tentang pertunjukan nyanyi dan tari Ge Tai...yang berlangsung setiap tahun pada Hungry Ghost Month. Hmmm...menarik juga untuk ditonton ya. Barangkali...? Anyone...?


(sumber foto: mita rachman)
Enhanced by Zemanta

4 komentar:

Vina Revi mengatakan...

Salut juga atas tenggang rasanya yang cukup tinggi dalam menghadapi kepulan 'hell money' tersebut!

*Insto! Mana Insto-nya? Cepaaaaat!!!*

si Dyah mengatakan...

Kadar tenggang rasa lagi mulai menipis...sejalan dengan makin 'hot' nya kepulan 'hell money'

Insto makin deras 'mengucur' ke mata...
Tenggorokan perih pulaa!! Waaaa....

Roy mengatakan...

Kalau posisinya dibalik.. Gimana rasanya non muslim di Indonesia yg baru nyampe rumah jam 1 pagi karena macet & harus kejar setoran.. Eh, jam 2an orang2 udah pd teriak2 bangunin sahur! Mau ngapain coba? :-)

(I learned how it feels to be a minority in Singapore)

Dyah mengatakan...

Buat Roy,

terimakasih tanggapannya. Tenggang rasa harus dilakukan kedua belah pihak dong. Saya juga mengerti dan sering kurang enak hati jika mendengar toa mesjid yg bekerja keras memanggil umat beribadah, tp lupa ada warga lain yg tidak berpuasa. Atau jengah mendengar khotbah penceramah yg berkata kurang baik ttg pemeluk agama lain.

Singapura juga negara multikultur dan multiagama, yg mayoritas dan minoritas harus sama2 lebih peka.

Kalau sekadar mata perih n tenggorokan sakit, saya bisa tahan kok. Tapi kalau anak saya kumat asmanya...bagaimana? Hm??

Popular Posts