Sabtu, 27 Maret 2010

AWAS KILLER LITTER


Tinggal di negara kecil yang miskin tanah memang tidak gampang, terutama buat kita-kita yang sudah terbiasa dimanjakan dengan halaman rumah yang luas. Rumah sempit (walau bagus), tapi apa boleh buat, kita tinggali juga karena terbatasnya lahan. Itu juga sebabnya sebagian besar warga kota singa ini tinggal di perumahan HBD atau Perumnas versi Singapura. Jadi...tidak ada tanah dan rumah seperti yang banyak dijumpai di tanah air? Ya ada tentu saja. Mau punya? Silakan, jika anda punya uang 1 juta dolar ke atas :-)

Di tanah air, mau berkebun, bertanam cabe atau bunga mawar...tidak masalah, lahan cukup, halaman kecilpun biasanya ada. Tapi di sini, mau menjemur baju saja bisa jadi masalah besar.

Di sini terkenal apa yang dinamakan Killer Litter. Apa sih itu? Killer litter adalah segala macam barang milik warga perumahan HDB yang jatuh ke tanah karena disimpan tidak pada tempatnya. Biasanya barang-barang ini diletakkan di parapet koridor, di jendela rumah atau di tempat menjemur baju di luar jendela dapur. Barang-barang apa yang dimaksud? Macam-macam, dari mulai pot tanaman, baskom, sarang burung, lap pel berikut galahnya, galah penjemur pakaian hingga ... sepeda! Iya lho...serius nih. Kalau barang itu jatuh dari ketinggian lantai dua dan mengenai/melukai orang yang kebetulan sedang lewat di bawahnya, mungkin tidak menjadi urusan serius ya, paling hanya menyebabkan kepala benjol...atau berdarah sedikit. Tapi...bayangkan jika barang-barang tadi jatuh dari ketinggian lantai 15! Waaa....bisa makan korban jiwa, dan itu pernah terjadi.

Itu sebabnya, town council (semacam kelurahan/ kecamatan) rajin menempel poster ini di papan pengumuman tiap blok rumah. Tujuannya supaya orang selalu diingatkan untuk tidak melakukan kecerobohan ini. Selain itu, mereka juga melakukan pengecekan secara rutin di daerah mereka, untuk mengetahui apakah ada warga yang teledor atau tak sadar melakukan kecerobohan itu.

Apa iya benar town council melakukan pengecekan secara rutin? Hehehe...benar. Buktinya saya pernah disurati oleh mereka. Isinya meminta saya tidak menggantung pot tanaman kecil (dari plastik botol aqua yang dipotong dua saja lho!) di dekat jendela rumah. Alamak! Saya pikir dengan menaruhnya di bagian dalam rumah (walau memang di jendela), pot ini tidak akan mebahayakan orang yang lewat apartemen saya. Dan...saya tinggal di lantai dua lho!

Aih...ternyata...saya masih salah juga. Untung tidak sempat membawa korban. Cepat-cepat pot itu saya turunkan.

4 komentar:

Lidya mengatakan...

seluk beluk ditinggal di apartemen ya mbak.aku doain deh supaya dapet rumah disana

Pipit mengatakan...

Salam kenal :)
Banyak aturannya ya di tetangga situ? Tapi lebih baik daripada terlanjur berantakan..

Lambertus Hurek mengatakan...

Wow, hebat sekali petugas di negara kecil Singapura. Sangat disiplin dan teliti mengurus hal-hal kecil demi keselamatan rakyatnya. Salus populi suprema lex! Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Biasanya, kalau negara sudah hebat mengurus hal-hal kecil, sederhana, sepele, maka negara itu dipastikan bisa menangani hal-hal besar lainnya. Itulah bedanya Singapura dengan Indopahit.

si Dyah mengatakan...

Lidya...

Wah...kalo rumah dengan halamannya mah seperti mimpi saja! CUkup apartemen sajalah hehehe

Pipit...salam kenal juga :-)
Iya..memang byk aturannya. Memang perlu...suapya tertib dikit :-)

Bang Hurek,
Ada orang gak suka terlalu diatur...tp ada juga yang mengganggap memang perlu ada aturan yang ketat itu. BUat negara kita...yang luas...yang penduduknya buanyak...rasanya peraturan dan hukum mesti keras dan ditegakkan benar2. Supaya gak semrawut :-(

Popular Posts