Rabu, 23 Desember 2009

Know Your Rights





Ada banyak penyebab kasus penyiksaan terhadap PLRT, antara lain : kemampuan PLRT yang berbeda jauh dari pengharapan majikan atau pengharapan majikan yang tidak realistis, kendala komunikasi sehingga sering terjadi salah pengertian antara majikan dan PLRT, pandangan majikan yang berpendapat: "Saya sang majikan, saya bisa suruh PLRT saya melakukan apa saja" sehingga sang majikan cenderung memperlakukan pembantunya semena2.

Budaya dan kebiasaan yang berbeda jauh antara kehidupan di kampung mbak PLRT dengan apa yang dialaminya di sini juga bisa membuat stres pada PLRT. Yang repot adalah, para PLRT ini yang tidak tahu ke mana mereka harus mengadu jika mereka disiksa, atau kepada siapa mereka bisa menumpahkan unek2 mereka selama bekerja membanting tulang di negara asing ini. Stres berkelanjutan tidak baik juga buat PLRtT jangan sampai kasus PLRt bunuh diri karena stres terulang lagi di sini.

Sekarang di Singapura, seorang calon majikan yang ingin mempekerjakan PLRT di rumahnya harus mengikuti kursus pengetahuan ttg hak dan kewajiban seorang majikan dan PLRT. Pada kursus ini, para calon majikan diingatkan kembali bahwa PLRt itu manusia juga, jadi perlu diperlakukan secara manusiawi. Misalnya, berikan dia tempat istirahat yang layak (ini sulit diterapkan karena rumah2/flat di sini kecil2), berikan waktu istirahat yang cukup, berikan tugas yang jelas, apakah si PLRT dipekerjakan untuk menjaga anak atau merawat orang tua, berikan hari 'off' di mana si PLRt bisa bebas melakukan apa saja yg dia suka, jalan2 atau pergi ketemu teman di Orchard mungkin ? Dan banyak lagi.

Hanya calon majikan yg sudah mengikuti kursus ini boleh mempekerjakan PLRT di rumahnya.

BAgaimana dengan para pekerja asing (kebanyakan dari India dan Cina) yang kebanyakan bekerja di bidang konstruksi?
Kasus yang banyak diangkat di koran adalah majikan yang ingkar bayar gaji pekerjanya, atau majikan yang mengabaikan faktor keselamatan kerja pekerjanya, yang kadang berakibat fatal. Dan banyak lagi.

Sama juga...para pekerja asing ini perlu tahu ke mana mereka bisa mengadukan perlakuan tidak adil dan tidak berperikemanusiaan yang mereka alami.

Supaya para pekerja asing dan PLRt mengerti juga ttg hak dan kewajiban mereka, yaa...poster ini lah salau satu jawabannya. Poster yang ditempel di tempat2 umum spt peron MRT (seperti poster2 di atas), diharapkan akan dibaca oleh banyak orang, termasuk para PLRT dan pekerja asing.

Saya pribadi belum pernah mempekerjakan PLRT. Pernah mengikuti kursus ini, karena sempat berpikir akan mempekerjakan seorang pembantu untuk menjaga anak yang masih ada di perut waktu itu. Tapi setelah dipikir2, banyak pertimbangannya nih...akhirnya saya memutuskan untuk membesarkan anak saya sendiri, walau kami harus bertahan dengan satu penghasilan saja.

Begitulah....walau sudah ada bermacam usaha dari pemerintah untuk memperbaiki nasib para PLRt dan pekerja asing di negaranya, tetap saja masih ada kasus pelanggaran hak asasi. Itu sebabnya...kita bakalan makin sering lihat poster2 semacam ini di mana-mana.




7 komentar:

Syari mengatakan...

It's a good thing that the s'pore's MOM is imposing the need to undergo a course for future employers. Better yet they should really interview them before allowing to hire.

In m'sia we've read so many times about abuse of domestic workers. Asking them to work from morning till night - from walking the dog to washing the car, and if they own a restaurant/shop have to help at the restaurant/shop too, and worse of all the physical abuse.Cheap labour. M'sia should do the same I think.

But what to do Dyah, the Govt. can do a certain extent to help these people, but if the employers are 'demons in human skins', there's no stopping them from abusing their powers against their foreign employees. :(

Lidya mengatakan...

kalo PRT asal Indonesia kayanya kebanyakan kurang ilmu ya

Lambertus Hurek mengatakan...

Selamat ketemu dan terima kasih ucapan tulus Mbak Dyah. Saya cuti agak lama dan selama itu tidak online sama sekali. Bebas internet! Baru sekarang masuk lagi ke alam maya yang hiruk-pikuk.

Pekerja domestik, maklumlah, hampir semuanya dari desa. Sangat sederhana, kurang pendidikan, terpaksa bekerja di sektor ini karena pilihan lain kurang. Maka, pendidikan macam ini perlu diperbanyak, khususnya di Indonesia Raya, negara pengekspor pekerja domestik terbesar di dunia.

Di Indonesia sendiri nasib pekerja-pekerja domestik lebih parah. Kerja 24 jam, standar upah gak ada, jaminan lain pun belum baik. Saya sedih karena sering melihat sendiri betapa para pekerja domestik alias PRT [kasarnya babu] itu diperlakukan bak budak. Tidak manusiawi.

Lambertus Hurek mengatakan...

Oh ya, saya lupa berterima kasih kepada Mbak Dyah. Akhirnya, saya "menemukan" istilah PEKERJA DOMESTIK di blog ini.

Selama ini yang dipakai PRT: pembantu rumah tangga. Kemudian, para aktivis "merevisi" menjadi "pekerja rumah tangga". Departemen Tenaga Kerja memperkenalkan "penatalaksana rumah tangga" tapi tidak berterima di Indonesia.

Ah, domestic worker, jadilah "pekerja domestik". Bunyinya lebih keren dan moderen. Mudah-mudahan nasib para pekerja domestik makin membaik.

Selamat tahun baru!

si Dyah mengatakan...

Syari...

You are right. Even with stiff penalty (sometimes jail terms) many employers here are still treating their workers horribly.

How about domestic workers in my country? You may read comment from Mr Lambertus below. What he wrote there is true, sad to say.

Personally, since i've been living and managing my household without any help from them, I am reluctant to hire one. I am concern that I might not be able to treat them well, that I might lose temper over small matters. Hiiii...i hope i will never do such things.

Lidya,

Semua pekerja domestik juga kebanyakan berpendidikan rendah dibanding masyarakat luas di sini, atau mereka buta hukum, jadi bisa dipermainkan. Kesian ya.

Bang Hurek,
Terima kasih banyaaaak untuk komentar dan tambahannya yang berharga :D

Saya kok baru tahu istilah PLRT itu gak diterima di Indonesia. Jadi istilah itu dipakai di mana ya? Teman2 saya yg mengajar di KBRI selalu menggunakan istilah ini. Jangan-jangan...kami yg salah ya?

Lisa mengatakan...

good campaign, semoga berhasil.

si Dyah mengatakan...

Lisa...

Iya...semoga ada impact nya :D

How are you dear?

Popular Posts