Kamis, 09 April 2009

Pemilu DPR 2009 di Singapura


Hari ini resmi dua kali saya berpartisipasi dalam pemilu Indonesia lewat KBRI Singapura. Yang pertama, tahun 2004...saya masih bekerja full time. Ingat sekali bagaimana saya tergopoh2 datang dengan rasa khawatir akan menghadapi proses menunggu yang lama. Ternyata kekhawatiran itu tidak terjadi.

Begitu juga kali ini. Berkat kerja keras panitia pemilu (sebagian dari mereka teman2 baik di sini), pemilu di Singapura berjalan lancar. Ketika saya datang bersama adik dan ibu sekitar jam 12.30 siang tadi, terlihat banyak peserta pemilu yg sudah hadir di KBRI. Tapi mulai dari proses pendaftaran, memilih, memasukkan surat suara hingga celup2 jari...berjalan kira2 15 menit saja. 
Untuk ibu saya...malah tidak perlu duduk menunggu giliran sama sekali! Aih...senangnya.

Sayang sekali ada seorang teman saya yang mengalami kejadian kurang enak. Teman saya ditolak masuk ke tempat pemilihan dan diminta pulang kembali ke rumah. Pasalnya? Menurut komputer catatan status daftar pemilih, teman saya itu telah dikirimi paket surat suara untuk digunakan dan dikirim kembali ke KBRI via pos. Memang alternatif memilih spt ini disediakan untuk para pemilih yang tidak bisa datang ke KBRI untuk memilih langsung, tapi tetap ingin menggunakan suaranya. 

Masalahnya, teman saya ini tidak pernak minta fasilitas ini. Jadi dengan bingungnya dia menurut saja diminta pulang dan menunggu itu paket suara datang ke rumahnya. Naaah...anehkan? Kenapa? Karena suami saya yg juga memilih untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu via pos telah menerima kiriman paket surat suara sejak seminggu yang lalu. Lha...teman saya ini kapan dong menerima paket suaranya? Akan datang tidak ya paket surat suara itu?  Kasihan...orang yang masih peduli dengan nasibnya...dan negaranya  (:D) kok malah dipersulit.

Buka fesbuk...ternyata ada lumayan banyak juga teman saya yang tidak menggunakan hak pilihnya. Dengan bangganya mereka menulis dan mengumumkan keabsenan mereka. What a waste.... :(   Dont you care about your future? 


7 komentar:

Arya mengatakan...

wah sukses berarti contrengan tadi siang ya mbak...
ati-ati kalau salah contreng loh mbak... pilihan bergandanya kan banyak, salah satu bisa dapet 90, kalo salah dua ya 80...he..he..
btw, manikur pedikur di Singapura bagus juga di pictnya ya, warnanya biru lagi...he..he..
ada titipan salam dari denmas Bendol, gak bisa sowan njenengan, dia pamit hiatus, karena ada kewajiban yang harus diselesaikan dan gak bisa ditunda...
mudah-mudahan pilihan kita di pemilu ini lebih baik dari kemaren ya mbak...amieeennn...amieeenn..

Judith mengatakan...

Mudah2an Pemilu tahun ini sukses ya jeng, tapi aku golput kiy :(

Denger2 di Tanah Air kita udah ada 44 Partai ya? Waahh .. rame :)

Lisa mengatakan...

ga bisa lewat pos ya ?
dulu gue hobinya lewat pos

si Dyah mengatakan...

Arya,
Iya...lancar lah pemilunya. Gaktau hasilnya :)

Mbak Judith,
Amin ... sejauh ini sih lancar memang. Kalo pemilu sebulan sekali...mungkin sy juga malesh mbak...hehe.

Lisa,
Ya bisa doong...kan aku tulis tuh. Suamiku jg milih via pos...praktis buat orang yg gak punya/ bisa datang langsung ke TPS.
Kalo niat...pasti ada jalannya...hehe

Lisa mengatakan...

hi hi hi ketawan ya gue bacanya ngga ampe abis.

si Dyah mengatakan...

Ini komentar dari mas Hurek,

Maaf sekali ya mas, komentar anda gak sengaja terhapus, maklum tombol approve dan reject comment jadi kecil dan bersebelahan kalau dilihat dari HP :D

---------

Baguslah kalau pemilu di negara Singa cukup rame, banyak yang ikut, ada yang golput, en macem2 lagi. Saya sendiri tidak masuk daftar alias DPT sehingga so tentu kitorang tra bisa contreng. Banyak sekali warga negara yang punya hak pilih memang tra masuk daftar pemilih tetap.

Yah, mau bilang apa meski kita sudah coba usahaken ke sana sini. Pak RT tra mau tau, RW tjoeek, en banyak yang apatis. Di kita punya negara memang ada prinsip: Kalo bisa dipersulit, kenapa dipermudah?

Oh ya, saya terinspirasi bungkos KOFFIE BANDOENG yang Mbah Dyah posting di ini blog. Kebetulan saa juga baru membaca beberapa novel tempoe doeloe dalam bahasa Melaju Tionghoa yang mirip banget dengan itu bahasanya orang-orang Belanda en peranakan tempo doeloe.

Lantas, jadi keterusan setelah saya baca itu Benedict Andersson, ahli Indonesia di Cornell University, yang selalu pakai bahasa Melayu pasaran ala Papua en Flores kalau bikin artikel. Yah, sekali2 kita bekin variasi biar tra bosan to.

Salam untuk para tukang becak di dekat Bugis Street yang dulu pernah antar saya berpusing-pusing di Singapura.

si Dyah mengatakan...

Mas Hurek,

Silaken toelis seperti ini, kitorang senang batjanja :D

Minggu ini saya ke daerah Bugis, nanti saya tangkep itu tukang becak n saya aken sampaikan salam nya! hehehehehe

Popular Posts