Sabtu, 20 November 2010

Tanggung jawab siapa?

Gambar: babylifestyles.com

Berita yang menjadi bahan pembicaraan orang awal bulan ini:

A Singapore couple have discovered that their baby conceived through in-vitro fetilisation (IVF) is not biologically theirs - the child's DNA does not match the father's.
Aduh...bagaimana ini bisa terjadi?
Kasus ini sedang diselidiki jadi belum ada pernyataan resmi dan final. Tapi dari beberapa berita yang beredar dikatakan bahwa kasus ini terjadi karena adanya kesalahan di meja laboratorium, ketika spesialis di lab secara tidak sengaja menggabungkan sperma dan telur dari pasangan yang salah! Oh no!

Sekarang, departemen kesehatan Singapura sedang meninjau kembali proses dan protokol pembuahan buatan yang berlaku di sini. Mungkin nantinya akan dibuat peraturan yang menegaskan bahwa seorang spesialis di lab hanya boleh menangani satu kasus (satu pasangan) dari awal hingga prosedur selesai, sebelum bisa menangani kasus lain.

Kasihannya pasangan ini. Bisa dibayangkan, betapa bahagianya mereka mengetahui bahwa buah hati yang dinanti bertahun-tahun akhirnya lahir dengan selamat. Tapi....kebahagian berubah menjadi kekecewaan ketika mereka mengetahui bahwa si bayi tidak berasal dari sperma sang ayah! Aiiih...

Saya bisa membayangkan betapa pedih perasaan yang dialami sang ibu. Kenapa? Karena menjalani prosedur ini benar-benar menguras emosi. Ini berdasarkan pengalaman pribadi.

Kami pernah mencoba prosedur ini, walau sayangnya tidak membuahkan hasil. Tapi yang jarang diceritakan oleh para wanita yang menjalani prosedur ini adalah betapa hebat roller-coaster ride emosi yang mereka rasakan semasa menjalani prosedur. Ritual menyuntik diri dengan hormon bermingu-minggu plus efek sampingannya, rasanya bukan apa-apa dibanding rasa cemas, takut, harapan tinggi yang akhirnya amblas menuju kekecewaan ketika prosedur tidak berhasil. Capek. Sedih juga.

Dalam kasus kami, setelah mencoba beberapa kali tanpa hasil, akhirnya kami menghentikan usaha ini. Biarlah nature takes its course. Apa yang terjadi, terjadilah. Lagipula sebagai orang yang beragama, saya coba berpikir positif. Mungkin ini artinya kami belum bisa diberi tanggung jawab tambahan. Mungkin memang harus usaha yang lain. Rahasia yang harus ditemukan kuncinya ya...

Kembali ke kasus di atas. Pasangan ini dikabarkan tetap memilih menjaga dan membesarkan sang bayi, walau mereka juga tetap membawa kasus mereka ke jalan hukum. Tapi...bagaimana jika kasus ini terjadi pada pasangan lain, dan pasangan suami-istri itu menolak memelihara sang bayi karena sang bayi dianggap bukan keturunan mereka? Siapa yang harus bertanggujawab atas hadirnya satu manusia di dunia ini? Bingung ya?

Tsk..... jangan sampai saya harus menghadapi keadaan ini :-(


Ini link beritanya: klik ini dan ini.
Klik ini jika mau tahu tentang IVF

1 komentar:

tukangecuprus mengatakan...

"Kasihannya pasangan ini. Bisa dibayangkan, betapa bahagianya mereka mengetahui bahwa buah hati yang dinanti bertahun-tahun akhirnya lahir dengan selamat. Tapi....kebahagian berubah menjadi kekecewaan ketika mereka mengetahui bahwa si bayi tidak berasal dari sperma sang ayah! Aiiih..."

Gak berani ngebayangin. Ngeri. *touch the wood*

Popular Posts